Opini

PETUAH SUCI SEORANG IBU

PETUAH SUCI SEORANG IBU

Oleh Lita Rosita

Anggota KPU Kabupaten Lebak, Divisi Teknis Penyelenggaraan

 

Secara nasional setiap tanggal 22 Desember diperingati Hari Ibu. Sejarah pun telah mencatat bahwa yang menjadi tonggak diperingatinya hari besar tersebut tiada lain untuk merayakan semangat wanita Indonesia upaya meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Namun kini, zaman semakin berkembang, peringatan hari ibu tersebut telah banyak versi dalam perayaannya. Berbagai ungkapan rasa cinta terhadap kaum ibu pun bertebaran melalui medsos, saling bertukar kado/cindera mata, mengadakan berbagai acara seminar, lomba-lomba seperti: memasak, kebaya, merangkai bunga, puisi dan masih banyak lagi.

Kegiatan-kegiatan tersebut, mengingatkan penulis pada saat lalu ketika aktif di PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Kecamatan Bayah. Dimana Hari Ibu merupakan momen yang ditunggu dan menjadi sesuatu yang wajib dirayakan dalam setiap tahunnya meski sederhana. Semua elemen masyarakat terutama kaum ibu diundang untuk menghadiri acara tersebut.

Secara berjenjang turut pula dirayakan oleh kaum ibu dari setiap desa, acara pun dikemas dengan apik nan menarik. Hal itu cukup terkesan bagi sebagian besar warga masyarakat karena banyak sisi positif yang didapat, juga makna yang begitu berarti yakni betapa besarnya peranan seorang wanita.

Menilik peran serta wanita pada era kekinian, bertebaran profesi yang disandang tidak seperti ungkapan zaman dulu: di sumur, di dapur, atau masih terdapat istilah lain. Otomatis, wanita sekaligus seorang ibu mempunyai semangat dalam membangun kesadaran dirinya untuk dapat berkiprah selain di rumah demi kemajuan dan kemandirian keluarga, bangsa, dan negara.

Dari masa ke masa terdapat kemajuan dari pola pikir kaum ibu di Indonesia sehingga mereka banyak berkecimpung dalam sektor kegiatan/pekerjaan. Sebut saja ibu masa kini adalah mereka yang sudah bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Banyak profesi yang digeluti diberbagai bidang, baik kesehatan, pendidikan, manajemen, teknik, hukum, pemerintahan, bahkan penyelenggara pemilu, dan lainnya. Jika ibu kita seorang yang punya pemikiran ‘kolot’ maka kita tak harus anti, karena ia memiliki keterbatasan wawasan ilmu dan pengetahuan. Sejatinya sifat konservatif itulah yang dapat menjadikan dan memunculkan anak-anaknya untuk bisa berdarma dan berbakti.

Memaknai Hari Ibu

“9 bulan 10 hari bukanlah penderitaan pendek bagi seorang ibu mengandung janin, yang hendak menjadi manusia dengan segala macamnya.”

Tentu saja dari kutipan di atas terdapat arti yang mendalam, dan setiap orang mempuyai cara/pandangan untuk memaknainya. Menceritakan sosok ibu yang notabene seorang yang telah melahirkan kita ke dunia ini tak akan ada habisnya, karena cinta kasih dan sayangnya sepanjang masa. Perjuangannya dalam membesarkan, merawat, dan mendidik, seperti tak ada ujung. Ia begitu tulus, maka belajarlah kasih sayang dari seorang ibu, bukan lainnya!

Sosok seorang ibu begitu melegenda dari waktu ke waktu karena ia adalah pengandung keberlangsungan umur bumi. Apa pun ibu kita, mungkin seorang buta huruf tak bisa menulis dan membaca, lusuh, kumuh, tidak mengenyam pendidikan namun ia adalah seorang yang terbaik, karena melalui rahim yang suci ia telah melahirkan kita, dengan segala gelar, lebel, posisi, jabatan, dan keagungan yang melekat pada diri kita hari ini.

Kebahagiaan seorang ibu terlihat tat kala anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi saleh dan salehah. Selayaknya setiap detik, menit, dan hari-hari kita selalu ada waktu buat ibu, walau sekedar bertelepon menanyakan kabar. Sosok tangguh ibu, menjadi cikal bakal bagaimana kita seorang wanita bisa menjadi pribadi yang mampu memberikan sumbangsih untuk keluarga, bangsa dan negara dalam mengisi perjalanan hidup ini. Tidak sedikit pula dari wanita di Indonesia turut serta andil dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan upaya membangun dan mengharumkan nama bangsa.

Apa pun yang ibu ajarkan, terlebih nasehat yang masih terngiang diingatan adalah bekerjalah dengan baik dan benar, karena itu akan membawa pada kemaslahatan. Tak perlu takut jika kita berada dalam koridor yang benar, jangan mencari musuh namun banyaklah berteman. Maka, kebenaran tetaplah menjadi sebuah kebenaran meskipun orang lain berada di sisi yang berseberangan.

Ibu, merupakan rangkaian dari tiga huruf yang mempunyai kekuatan magis maha dahsyat. Siapa pun yang mendengar kata itu, maka akan terkenang hingga tak terbendung lagi air mata, apalagi jika sang ibu telah pergi dan berbeda alam. Kasih sayang kita kepada ibu sejatinya bukan hanya melalui kata, melainkan dengan sentuhan, kepedulian, juga mau mendengarkan segala keluh kesahnya. Terpenting adalah mendoakan kepadanya dan jangan pernah ia menjatuhkan air mata ke bumi kecuali air mata bahagia.

Selamat Hari Ibu.

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 87 kali